Dunia Smart vidoran

Wednesday, 23 December 2015

7 Tips Mengajarkan Anak Percaya Diri

Sikap percaya diri pada anak akan baik untuk modal di masa yang akan datang. Sikap ini bisa membuat anak berani bertindak dan mampu bertahan di tengah tekanan lingkungan.

Permasalahannya, banyak orangtua yang tidak tahu cara memberi motivasi kepada Si Kecil agar tumbuh menjadi sosok yang percaya diri.

Menyadari kondisi tersebut, ahli psikologi anak Dr. Maria Gascon dan Dr. Ian Connor dari First Psychology's Centre di Amerika Serikat, memberikan tips mengajarkan anak agar tumbuh sebagai sosok yang percaya diri.

1. Berikan cinta tak bersyarat

Penelitian menunjukkan bahwa mengembangkan ikatan yang kuat dengan anak adalah dasar untuk mendorong kepercayaan diri dan kesejahteraan anak pada usia berapa pun.

Tak banyak orangtua menyadari hal ini, sehingga banyak anak-anak yang ketika dewasa kerap berkecil hati karena kurangnya kasih sayang dari orangtua.

Sejak kecil, orangtua harus menunjukkan pada buah hati bahwa kasih sayang mereka tidak berdasarkan nilai-nilai anak di sekolah, bukan juga diukur dari prestasi apa yang diraih. Bahwa kasih sayang orangtua itu tak bersyarat. Bagaimana membuat anak paham? Anda harus menunjukkan, bukan semata mengatakannya.

2. Punya waktu bermain

Anak-anak pra-sekolah biasanya akan bermain secara spontan. Namun, tanpa dukungan dan arahan orang dewasa, permainan kreatif anak akan menghilang secara bertahap.

Artinya, saat orangtua tak mengajak anak bermain bersama, anak-anak akan kehilangan kesempatan untuk mempelajari siapa mereka, apa yang dapat mereka lakukan, dan bagaimana berhubungan dengan dunia di sekitar mereka.

3. Kenali yang disukai anak

Habiskan waktu khusus bersama anak-anak dan terus berupaya mengenali diri mereka. Ini berlaku pada anak di berbagai rentang usia. Bila orangtua memahami, mendukung, bahkan ikut serta dalam segala kegiatan yang disukai anak, maka ia akan merasa lebih percaya diri dan berpikir, "Ibu terlihat senang bila saya melakukan ini, jadi saya harus melakukannya dengan baik."

4. Jadilah pribadi optimis

Sebelumnya, coba tanya dalam hati. Seberapa percaya dirikah Anda? Jika anak Anda pernah mendengar Anda mengatakan "Mama tidak pintar matematika" atau "Ibu tidak pernah bisa melakukannya", kemungkinan besar mereka akan mengingat kata-kata Anda dan ikut melakukannya.

Cobalah untuk lebih optimis kepada diri Anda. Ini akan membuat semangat dan kepercayaan diri Anda “menular” pada buah hati. Bukankah anak adalah pencontoh yang baik?

5. Ajarkan cara memecahkan masalah

Saat Si Kecil tengah mengalami masalah di teman-teman rumah atau sekolahnya, Anda bisa membantu tapi sekaligus mendorong anak memecahkan masalahnya sendiri.

Hindari menyelesaikan masalah anak-anak secara langsung, karena ini membuat anak tak pernah belajar. Lantas, bagaimana caranya?

Jangan memberitahu mereka bagaimana memecahkan masalah, tetapi tempatkan beberapa petunjuk, yang dalam dunia psikologis dikenal dengan nama "perancah". Anda bisa “mengantarkan” dia pada jalan keluar terbaik dengan beberapa petunjuk.

6. Biarkan anak punya kehidupan sosial

Mengizinkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan setelah sekolah dan belajar di luar ruangan adalah cara yang efektif untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka.

Dengan menguasai keterampilan khusus, mencoba hal baru, ditambah banyak teman, anak-anak bisa meningkatkan kontrol atas diri dan tubuh mereka sendiri.

7. Menanggapi dengan tepat

Bagaimana orangtua menanggapi kelakuan anak akan sangat berpengaruh terhadap kebiasaan-kebiasaan yang melekat pada anak.

Upayakan memberi apresiasi setiap kali anak melakukan hal-hal positif. Tapi ketika anak gagal, jangan pula membuatnya semakin terpuruk.

Contoh, ketika anak menjadi penjaga gawang saat sedang bermain bola dan ia kebobolan, jangan tertawakan atau membahasnya dengan nada bercanda. Cobalah berkata, "Tidak apa-apa, kamu hanya butuh berlatih untuk fokus pada bola. Kita dapat latihan bersama dan nanti kamu akan lebih pintar memukul bola."

Sementara saat anak melakukan hal yang patut dipuji, berikanlah pujian dengan fokus pada tugas yang dilakukan, bukan pujian secara langsung pada anak Anda.

Misal, istilah seperti "Kau pintar!" bisa sangat positif bagi anak kecil, tetapi ucapan ini mengandung tekanan untuk mempertahankan kinerja ini. Sebaliknya, fokuskan pujian pada perilaku dengan mengatakan, "Mama suka melihat kamu segera bangkit dan tetap menjaga semangat meski gawangnya sudah kebobolan. Kamu ingat? Setelahnya, kamu malah tetap fokus dan bisa menahan 3 tendangan yang kencang!”

Cara ini membuat anak mengetahui mereka melakukan sesuatu dengan baik.

FOTO: Theguidancegirl.com

Jadi yang pertama tahu promo dan artikel terbaru dari vidoran dengan berlangganan Newsletter ini!