Wednesday, 23 December 2015

Jika Anak Tak Mau Berpisah dengan Mama

Sering kita saksikan seorang anak sulit sekali ditinggal oleh ibunya. Ketika ditinggal ibunya bekerja, si anak bisa menangis sampai menjerit-jerit. Akibatnya, ibu jadi tak tenang setiap kali akan meninggalkan anak.

Sebenarnya, kata psikolog Ninik Bawani, wajar saja anak lekat sama ibunya. "Perilaku ini memang normal. Toh, bila sudah besar, dengan sendirinya si anak tidak lengket lagi pada ibunya. Ia hanya membutuhkan ibu pada saat-saat tertentu saja," terang psikolog dari RS Internasional Bintaro ini.

Pada awalnya kelekatan anak pada sang ibu karena si ibu bisa memenuhi kebutuhannya. Jika kelekatan pada si ibu terpenuhi di masa bayi, maka anak akan merasa aman. Ia pun akan berkembang dengan berani sehingga di usia batita tak akan takut ditinggal ibunya karena ia berpikir, bila ibunya pergi, toh, akan kembali.

"Biasanya perilaku kelekatan ini berlangsung sampai usia 3 tahun. Karena pada masa batita ini si anak juga sudah mulai belajar bersosialisasi," kata Ninik. Anak mulai bertemu dengan orang banyak, terutama teman sebayanya.

Kurangnya Rasa Aman
Anak yang sangat lengket dengan ibunya, biasanya karena ia tak memiliki obyek kelekatan sewaktu bayi. Misalnya, si ibu tak memberikan respons kala si anak menangis atau mengompol. Biasanya anak akan berkembang menjadi anak yang sulit. Ia tak mau lepas dari ibunya, dan tak punya keberanian untuk eksplorasi. Tak heran, ada anak yang masih harus ditunggui ibunya ketika sudah masuk playgroup.

Sikap ibu yang terlalu melindungi anak juga bisa berakibat si anak lengket terus sama ibunya. Umpamanya, terlalu khawatir nanti anaknya jatuh, sakit, dan lain-lain, sehingga aktivitas si anak kerap dibatasi. Anak tak diberi kesempatan berhubungan dengan orang lain, sehingga tak berani melakukan apa-apa dan harus selalu ada ibunya.

Faktor lain ialah pengalaman traumatis. Misalnya, saat anak pertama kali berpisah dengan ibunya. "Mungkin pada saat itu si ibu pergi terlalu lama atau secara tiba-tiba, sehingga anak tak bisa melihat ibunya ada di mana. Apalagi pada saat pertama ditinggal tentunya ada kecemasan pada si anak. Ia punya konsep bahwa ibu pergi untuk selamanya dan tak kembali lagi," terang lulusan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada ini.

Jangan Membohongi Anak
Agar anak tidak terus melekat pada sang ibu, sebaiknya ibu atau ayah tidak meninggalkan anak secara drastis. Hal itu akan menyebabkan trauma dan anak merasa tak aman lagi. Yang terbaik ialah mengajaknya berkomunikasi. Coba lakukan hal ini:

  • Lebih baik ibu pamit sama anak kalau mau pergi, dan berikan pengertian sedikit demi sedikit pada anak. Tak perlu khawatir jika anak akan tetap berkeras tak mau ditinggal dan bahkan menangis setelah ibu pamit. Lama-lama anak akan belajar untuk mempunyai obyek kelekatan pada orang lain. Hal ini lebih baik daripada membohongi anak dengan mengatakan bahwa Anda hanya pergi sebentar, padahal pergi sampai malam. Anak akan merasa dibohongi sehingga ia jadi berpikir kalau ia lengah maka akan ditinggal.
  • Beri anak kegiatan dan libatkan diri sebentar, kemudian baru ditinggalkan. Jadi, selain anak diberikan pengertian, perhatiannya juga dialihkan. Tentunya berapa lama meninggalkan anak juga harus dilakukan secara bertahap, dari sebentar lalu diperpanjang.
  • Tinggalkan secara bertahap, misalnya ketika anak sudah masuk play group. Katakan pada anak, "Adik sekarang di dalam kelas. Ibu tunggu di luar dan Adik bisa lihat Ibu dari dalam." Jadi, anak ditemani ke dalam kelas sebentar, baru kemudian ditinggalkan.
  • Siapkan anak untuk berpisah dengan ibu. Jangan memberitahu anak secara mendadak. Lebih baik beritahu anak jauh hari atau malam sebelumnya. Tujuannya untuk menyiapkan mental anak bahwa ia akan berpisah dengan ibunya. Sehingga anak tahu bahwa ada saatnya ia ditinggal namun ibunya tetap akan kembali.
  • Adakalanya si anak lengket sama ibu hanya pada saat-saat tertentu, misalnya setelah ibu pulang dari kantor. Karena itu, hal pertama yang sebaiknya dilakukan ibu sepulang kantor ialah mencari anak. Beri ia ciuman dan pelukan. Tanyakan bagaimana kegiatannya selama ditinggalkan.
  • Beritahu anak bahwa ada yang harus dikerjakan oleh ibu. Lalu, berikan anak suatu kegiatan di tempat yang dekat dengan ibu melakukan kegiatannya. Jika ibu mau memasak di dapur, biarkan anak melakukan kegiatannya di sekitar dapur sehingga ia bisa melihat apa yang sedang dikerjakan ibunya.

Bagaimana pun, anak selalu membutuhkan ibu. Selama segala sesuatu bisa dikerjakan bersama anak, lakukanlah bersama. Karena, pada masa balita anak sedang mengembangkan berbagai aspek. Antara lain, aspek rasa aman. Jadi, tak perlu memisahkan anak jika tak perlu. Jangan lupa, anak membutuhkan orangtua dan orangtua pun butuh anak.

FOTO: KELLINICOLEPHOTOGRAPHY.COM

Jadi yang pertama tahu promo dan artikel terbaru dari vidoran dengan berlangganan Newsletter ini!