Tuesday, 06 January 2015

Panduan mendongengi anak prasekolah

Libatkan anak dalam dongeng yang orangtua bacakan.Meski mendongengi balita lebih kompleks, orangtua tak perlu khawatir. Dengan memahami panduan sedikit dan percaya diri, orangtua bisa mendongengi anak. Berikut panduan mendongengi anak prasekolah atau anak usia 4-5 tahun:

1. Baca Bukunya
Terlebih DahuluRasa ingin tahu anak prasekolah sangat besar. Didukung dengan kemampuan bicara, keberanian, daya eksplorasi yang lebih besar, jangan heran jika anak akan menanyakan, mengomentari, maupun memprotes isi dari dongeng yang kita berikan. Tentu kita harus siap menghadapinya. Untuk itu, kuasailah isi cerita dongeng tersebut dengan membaca dan dan memahami terlebih dahulu sebelum kita mendongengi anak. Dengan begitu, ketika anak bertanya, protes, berkomentar, kita bisa mengatasinya dengan baik.

2. Kreatif dengan Karangan
SendiriJika kita punya kemampuan mengarang dongeng tak ada salahnya kita membuat dongeng sendiri. Dengan begitu kita lebih memahami apa yang akan kita dongengkan ke anak. Namun, karangan ini haruslah memiliki pesan yakni mendidik anak dari sisi moral akan baik dan buruk, menambah pengetahuan anak, tidak membingungkan, juga masalah yang dimunculkan dapat dipahami anak dengan baik. Hindari cerita yang kosong atau tak berisi pesan sama sekali, tak dipahami anak, atau malah mencondongkan sisi negatif dibandingkan positifnya.

3. Jadikan Karakter
Dongeng Lebih HidupAnak usia ini akan jauh lebih tertarik terhadap dongeng yang memiliki perbedaan karakter jelas. Maka itu hidupkanlah karakter di dalam dongeng dengan lebih baik. Suara seorang kakek, bapak-bapak, anak kecil, kurcaci, binatang bertubuh besar atau kecil, dan lainnya. Saat kita memainkan karakter-karakter tersebut, anak akan menebak sendiri lewat suara dan ekspresi yang kita keluarkan meskipun kita tak menyebut nama dari karakter tersebut, “Itu pasti kakek-kakek, suaranya tidak gagah seperti Ayah.” Selain cerita akan lebih hidup, anak pun akan jauh lebih tertarik.

4. Tidak Menakuti
Kita memang perlu menghidupkan karakter tetapi sebaiknya tak membuat anak menjadi takut, terutama pada anak yang memang memiliki ketakutan terhadap sosok tertentu, semisal suara kakek-kakek karena ia pernah trauma bertemu dengan kakek-kakek yang menyeramkan, suara hantu karena ia pernah menyaksikan film yang menyeramkan, atau suara kucing karena ia pernah dicakar, dan lainnya. Jika anak takut, maka dongeng yang kita sampaikan tidak akan memberi manfaat. Anak malah akan fokus pada ketakutannya sehingga ia tak mau mendengar dongeng lanjutannya.

5. Eksplorasi Maksimal
Jika kita memiliki kemampuan mendongeng yang baik, sebaiknya kita mengeksplor kemampuan kita ini secara maksimal. Kita bisa menggunakan alat pendukung, mengeluarkan teknik mendongeng, atau mengekspresikan dan meniru suara-suara semirip mungkin. Saat menggunakan boneka kera, kita buat gerakan, suara, dan perilaku kera yang mirip dengan aslinya. Eksplorasi maksimal ini tentu akan membuat anak jauh lebih tertarik mengikuti dongeng yang kita berikan.

6. Puaskan Keingintahuan Anak
Di usia ini keingintahuan anak sangatlah besar. Didukung dengan kemampuan bicaranya, ia akan mampu mengungkapkan keingintahuannya dengan baik. Jika ia merespons, bertanya, berkomentar, menyela, terhadap dongeng yang kita berikan, maka responslah dengan baik dan penuhi keingintahuannya itu. Bila anak bertanya, “Kenapa harimaunya jahat?”, jawablah, “Harimau tidak jahat. Ia sedang lapar, jadi tak bisa menahan keinginannya.”

7. Lakukan Dialog tentang Dongeng
Agar manfaat mendongeng lebih maksimal, usai bercerita kita lakukan dialog dengan anak. Tanyakan isi dongeng yang sudah kita ceritakan, “Ketika harimau akan menerkam kelinci, menurut Kakak apa yang kemudian terjadi?” atau “Kenapa bisa terjadi seperti itu, ya?” atau “Apakah kelinci berhasil diterkam harimau?” dan lainnya. Apa pun jawaban yang diberikan anak, kita apresiasikan dengan baik. Meskipun jawabannya tak sesuai dengan isi dongeng. Sangat baik bila selanjutnya kita meminta anak menceritakan kembali dongeng tersebut. Ini akan melatih daya ingat dan kemampuan berbicara serta kemampuan mengungkapkan sebuah cerita, lalu apresiasikan kembali keberhasilannya menceritakan kembali dongeng tersebut. Jangan terlalu berharap anak akan mampu melakukannya dengan baik. Sekelumit bagian dongeng yang mampu ia ceritakan sudah baik.

8. Lebih Fokus pada Sisi Baik
Seperti halnya dongeng pada bayi dan batita, sisi baik harus lebih difokuskan dibanding sisi jahat. Dalam dongeng bebek yang antre, kerelaan si bebek mengantre harus lebih fokus dibanding ketidaksabaran kuda yang menyela antrean.

9. Tunjuk dengan Jari
Salah satu fungsi mendongeng pada anak usia prasekolah adalah mengenalkan konsep spasial (arah). Dengan membaca buku bersama orangtua, anak belajar bahwa cara membaca adalah dari kiri ke kanan, atas ke bawah. Untuk itu, bila membacakan cerita menggunakan buku, orangtua dapat menunjukkan kalimat yang dibaca dengan jari. Kemudian minta anak untuk membalik halaman, sehingga anak belajar mengenai konsep “selanjutnya” dan dari depan ke belakang.

Produk Terkait: vidoran smartvidoran xmart

Jadi yang pertama tahu promo dan artikel terbaru dari vidoran dengan berlangganan Newsletter ini!